Blog di Wotpres dot wordpress dot com

30 - April - 2008

Yuk kita tawakkal…

Filed under: Islam, Nasihat — wotpres @ 11:58 pm

Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.” (Ath Tholaq: 2-3)

Makna Bertawakkal Kepada Allah

Banyak di antara para ulama yang telah menjelaskan makna Tawakkal, diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau mengatakan, “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang diTawakkali.” (Faidhul Qadir, 5/311). Ibnu ‘Abbas radhiyAllahu’anhuma mengatakan bahwa Tawakkal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Imam Ahmad mengatakan, “Tawakkal berarti memutuskan pencarian disertai keputus-asaan terhadap makhluk.” Al Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang Tawakkal, maka beliau menjawab, “Ridho kepada Allah Ta’ala”, Ibnu Rojab Al Hanbali mengatakan, “Tawakkal adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Allah Ta’ala dalam memperoleh kemashlahatan dan menolak bahaya, baik urusan dunia maupun akhirat secara keseluruhan.” Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Tawakkal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.”

Mendapatkan Kebaikan dan Menghindari Kerusakan

Ibnul Qayyim berkata, “Tawakkal adalah faktor paling utama yang bisa mempertahankan seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari serangan makhluk lainnya yang menindas serta memusuhinya. Tawakkal adalah sarana yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan Allah sebagai pelindungnya atau yang memberinya kecukupan. Maka barang siapa yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya serta yang memberinya kecukupan, maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya.” (Bada’i Al-Fawa’id 2/268)

Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata, Imam Al Bukhori telah mencatat dalam kitab shohih beliau, dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyAllahu anhuma, bahwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah api yang membara beliau mengatakan, “HasbunAllahu wa ni’mal wakiil.” (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Perkataan ini pulalah yang diungkapkan oleh Rosululloh ShollAllahu ‘alaihi wa sallam ketika dikatakan kepada beliau, Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berencana untuk memerangimu, maka waspadalah engkau terhadap mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab Tafsir. Lihat Fathul Bari VIII/77)

Ibnu Abbas berkata, “Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung’.” (HR. Bukhori)

Bertawakkal Kepada Allah Adalah Kunci Rizki

Rosululloh ShallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)

Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pastilah dia akan diberi rizki. Bagaimana tidak, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati. Abu Hatim Ar Razy berkata, “Hadist ini merupakan tonggak tawakkal. Tawakkal kepada Allah itulah faktor terbesar dalam mencari riqzi.” Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mencukupinya. Allah berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3). Ar Rabi’ bin Khutsaim berkata mengenai ayat tersebut, “Yaitu mencukupinya dari segala sesuatu yang membuat sempit manusia.”

Tawakkal Bukan Berarti Tidak Berusaha

Mewujudkan Tawakkal bukan berarti meniadakan usaha. Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk berusaha sekaligus bertawakkal. Berusaha dengan seluruh anggota badan dan bertawakkal dengan hati merupakan perwujudan iman kepada Allah Ta’ala.

Sebagian orang mungkin ada yang berkata, “Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?” Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang itu tentang hakikat Tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa sebagai tempat bergantung.

Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata: “Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri”. Maka beliau berkomentar, “Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku dalam bayang-bayang tombak perangku (baca: ghonimah)’. Dan beliau juga bersabda, ‘Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.’ (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi). Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan mengelola pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.” (Fathul Bari, 11/305-306)

Kalau kita mau merenungi maka dapat kita katakan bahwa pengaruh tawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha seseorang ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya. Imam Abul Qasim Al-Qusyairi mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak lahiriah maka hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seseorang meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdir-Nya. Dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya.” (Murqatul Mafatih, 5/157)

Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah sebuah hadits. Seseorang berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jami’ush Shoghir). Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah RadhiyAllahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku berTawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’, Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.” (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368)

Tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.

***

Sumber: Buletin At-Tauhid
Penulis: R. Indra Pratomo P.
Artikel www.muslim.or.id

11 - April - 2008

Beragama Yang Benar

Filed under: Islam — wotpres @ 3:51 pm

Beragama Yang Benar

Kunci Kebahagian seorang Hamba

Setiap orang ingin bahagia dan berusaha untuk mencapainya dengan segala daya dan upayanya. Mereka bersusah payah siang dan malam tanpa kenal lelah hanya untuk mendapatkan kebahagian yang mereka cita-citakan tersebut. Namun berapa banyak orang yang menginginkannya tidak dapat menggapainya dan berapa banyak orang yang telah lelah mencarinya, tidak dapat memilikinya?!!! Yang lebih menyedihkan lagi banyak orang mencari dan berusaha mendefinisikan kebahagian namun ia orang yang paling bodoh dan jauh dari kebahagian. Juga ada yang menganggap dirinya telah mendapatkan kebahagian tersebut tapi sebenarnya itu adalah kebinasaan dan kesengsaraannya didunia apalagi diakherat nanti. Memang cukup ironis tapi itulah realita yang ada dan tidak mungkin dipungkiri.

Syari’at sebagai petunjuk ilahi menuju kebahagian.

Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan syariatNya, agar menjadi hujjah bagi semua makhlukNya dan menutupnya dengan mengutus Muhammad. Rasul yang menerangi manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan, membawa ke jalan yang lurus. Demikian ketetapan Allah; menunjuki manusia, sehingga mendapatkan keridhaanNya.

Allah berfirman,

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ Kami berfirman,”Turunlah kamu dari jannah itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah:38).

Petunjuk disini bermakna rasul dan kitab suci.[1] Petunjuk ini merupakan sumber kebahagian dan kejayaan umat yang menghilangkan kebodohan dan membawa keselamatan.

Hal ini didukung juga dengan tujuan penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah, sebagaimana firmanNya:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. 51:56-5 8)

Sehingga kunci sukses seseorang ada pada ibadah dan bukan selainnya, sebab dikatakan sukses apabila bila merealisasikan satu tujaun. Suksesnya manusia tentunya dengan terwujudnya peribadatan yang total dan sempurna kepada Allah dalam diri manusia tersebut. Oleh karena itu kita semua membaca dan mendengar minimal dalam sehari 17 kali pernyataan kita:

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (QS. 1:5)

Padahal untuk merealisasikan pernyataan tersebut harus dengan mengenal syariat yang Allah turunkan kepada para Rasul yang merupakan jalan menuju kesuksesannya. Demikianlah akhirnya kitapun diperintahkan untuk memohon kepada Allah juga minimal 17 kali dalam sehari dengan mengucapkan:

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. 1:6)

Jalan Yang Benar Dalam Memahami Agama.

Memang kesuksesan dan kebahagian kita berporos pada ibadah dan beragama dengan benar. Namun jalan mana yang harus ditempuh, sebab banyak jalan terpampang dihadapan kita dan semua mengaku benar, padahal yang benar hanyalah satu. Oleh sebab itu kita diperintahkan untuk memohon ditunjukkan jalan yang lurus.

Rasululloh pernah menggambarkan hal ini dalam hadits yang berbunyi:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَطَّ خَطًّا وَخَطَّ خَطَّيْنِ عَنْ يَمِينِهِ وَخَطَّ خَطَّيْنِ عَنْ يَسَارِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ فِي الْخَطِّ الْأَوْسَطِ فَقَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dari Jabir bin Abdillah beliau berkata: Kamu pernah bersam Rasululloh. Lalu beliau menggaris satu garisan dan menggaris dua garis disamping kanannya dan menggaris dua garis disamping kirinya. Kemudian meletakkan tangannya di garis tengah, lalu berkata: Inilah jalan Allah, kemudian membacakan al-an’am 153.

Lalu apa jalan yang lurus tersebut?

Untuk menjawabnya, kita cukup melanjutkan ayat dalam surat Al fatihah yaitu:

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1:7).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan jalan yang lurus adalah jalan orang yang Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan yang Allah murkai dan sesat.

Lalu siapakah orang yang Allah anugerahi nikmat tersebut?

Jawabnya ada pada firman Allah:

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)

Orang yang dianugerahi nikmat tersebut adalah para nabi, Shidiq, Syuhada dan sholihin. Sedangkan orang yang bersama mereka adalah orang yang mentaati Allah dan mentaati RasulNya.

Kesimpulannya jalan yang lurus itu tidak lain adalah taat kepada Allah dan RasulNya. Namun ketaatan kepada Rasululloh sama dengan mentaati Allah, sebagaimana firman Allah:

Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka. (QS. 4:80)

Dengan demikian kunci kebahagian hamba ada pada sikap mengikuti Rasululloh yang merupakan jalan yang lurus yang senantiasa kita mohon dalam sholat kita.

Ibnu Taimiyah berkata,

“Tidak ada kebahagian dan keselamatan di hari akhirat, kecuali dengan mengikuti Rasulullah . dengan dalil firmanNya,

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ ناَرًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابُُ مُّهِينُُ

Barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api naar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS An Nisa’:13-14). Ketaatan kepada Allah dan RasulNya adalah poros kebahagian dan tempat keselamatan yang pasti, karena Allah telah menciptakan makhluknya untuk ibadah. Sebagaimana firmanNya:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Al Dzariyaat:56)

Ibadah itu hanyalah mentaati Allah dan mentaati rasulNya, maka tidak ada peribadahan dalam agama Islam kecuali kewajiban atau sunnah. Selainnya adalah kesesatan dari jalan Allah. Oleh karena itu Rasululloh bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang beramal satu amalan tiada padanya perintah kami maka dia tertolak. Dan bersabda juga dalam hadits Al Irbaadh bin Saariyah yang diriwayatkan Ashabus Sunan dan daishohihkan Attirmidziy:

إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sesungguhnya barang siapa dari kalian hidup setelahku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang rasyidin lagi mahdiyin. Berpegang teguhlah kepadanya dan Gigitlah dengan gigi graham kalian. Berhati-hatilah dari perkara yang dibuat-buat (baru) karena setiap kebid’ahana adalah sesat. Demikian juga dalam hadits shohih yang diriwayatkan Muslim dan yang lainnya bahwa Rasululloh bersabda dalam khuthbahnya,

خَيْرُ الكلامِ كَلاَمُ اللهِِ وَخَيْرُالْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sebaik-baiknya perkataan kalamullah dan sebaik-baiknya contoh teladan adalah contoh teladan Muhammad. Sejelek-jeleknya perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap kebidahan adalah kesesatan.[2]

Kunci kebahagian dunia dan akhirat terletak pada ketaatan Allah dan RasulNya. Jiwa kita lebih butuh mengenal ajaran dan taat kepada Rasulullah dari pada kebutuhannya kepada makan dan minum. Sehingga sepatutnya kita semua mengenalnya dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah, yang telah diriwayatkan dan dinukilkan para ulama sejak zaman Rasulullah hingga sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Karena tidak cukup dengan hanya mengandalkan akal dalam mengenal ajaran Beliau .

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

“Dengan diutusnya Muhammad , jelaslah sudah kekafiran dari keimanan, keuntungan dari kerugian, petunjuk dari kesesatan, penyimpangan dari kelurusan, kekeliruan dari kebenaran, ahli syurga dari ahli neraka, orang yang bertakwa dari orang fajir dan mendahulukan jalan orang yang Allah karuniai nikmat dari kalangan para nabi, shidiqin, syuhada dan shalihin dari jalannya orang yang dimurkai Allah dan sesat.

Sehingga jiwa lebih membutuhkan untuk mengenal ajaran dan mengikuti Rasulullah, daripada kebutuhannya kepada makan dan minum. Karena, jika tidak memiliki makan minum hanya terjadi kematian. Sedangkan jika tidak memiliki petunjuk, akan mendapatkan adzab. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang menumpahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya untuk mengenal ajaran beliau dan mentaatinya. Inilah jalan keselamatan dari adzab yang pedih dan jalan kebahagiaan ke syurga. Caranya dengan mengambil riwayat dan penukilan (Al Qur’an dan As Sunnah, pen.). Karena tidak akan bisa mengenalnya, bila hanya mengandalkan akal. Sebagaimana cahaya mata, tidak dapat melihat kecuali dengan adanya cahaya yang di depannya. Demikian pula cahaya akal, tidak berfungsi kecuali jika ada cahaya terang risalah Allah . Oleh karena itu dakwah menyampaikan agama termasuk kewajiban Islam yang agung. Dan mengenal perintah Allah dan Rasulullah wajib atas seluruh manusia.”[3]

Hal ini tidaklah aneh karena beliau telah mengamalkan Al Qur’an seluruhnya dan menjelaskan dengan rinci dan jelas jalan menuju kebahagian duniawi dan ukhrowi. Bukan hanya itu saja, bahkan beliau aplikasikan dalam pembinaan generasi sahabat hingga menjadi sebaik-baiknya generasi dan umat. Sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ خَيْرَكُمْ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُم ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُم ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُم قَالَ عِمْرَانُ فَلاَ أَدْرِيْ أَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ بَعْدَ قَرْنِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةً ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُوْنَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُوْنَ و يَخُوْنُوْنَ وَلاَ يُئْتَمَنُوْنَ وَيَنْذُرُوْنَ وَلاَ يُوْفُوْنَ وَ يَظْهَرُ فِيْهِمْ السَّمْنُ

Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya – Imran mengatakan, “Aku tidak tahu, apakah beliau mengatakannya dua atau tiga kali setelah generasi beliau. Kemudian setelah itu akan ada suatu kaum yang memberikan persaksian padahal mereka tidak diminta memberikan persaksian, mereka berkhiat sehingga tidak bisa dipercaya, mereka bernadzar tapi tidak dipenuhi dan muncul pada mereka obesitas (kegemukan). [4]

Hal inipun diakui Allah dalam firmanNya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia (QS. Ali Imran : 110)

Jalan kebenaran ketika banyak perselisihan.

Telah dimaklumi kewajiban kita mengikuti Rasululloh, namun bagaimana sikap kita ketika bermunculan banyak perselisihan dikalangan kaum muslimin yang sudah menjadi sunnatullah dan sudah kita saksikan dengan kedua mata kita ini.

Islam sebagai agama yang diturunkan dari Allah dan sudah disempurnakan Allah dalam firmanNya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. (QS Al Maidah:3). Tentulah memiliki petunjuk dan penjelas bagaimana bersikap dalam permasalahan ini.

Rasululloh memberikan penjelasan tentang hal ini dalam beberapa hadits, kita bisa ringkas dalam poin berikut:

1. berpegang teguh kepada ajaran Rasululloh dan pemahaman para sahabatnya. Ini dijelaskan dalam sabda beliau:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَة

Barang siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para kholifah Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi graham kalian Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) karena hal itu adalah kebidahan dan setiap kebidahan adalah kesesatan..[5]

2. mengikuti imam (kholifah) kaum muslimin apa bila ada dan menjauhi kelompok-kelompok yang bermunculan setelah kehilangan imam kaum muslimin dan negara kekhilafahan. Tapi dengan senantiasa mengamalkan langkah pertama. Hal ini dijelaskan dalam sabda beliau:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يستنون بغير سنتي ويَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bin Al Yaman, beliau berkata: orang-orang bertanya kepada Rasululloh n tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut jangan-jangan menimpaku,Maka aku bertanya: wahai Rasululloh kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Beliau menjawab: ya, aku bertanya: dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan? Beliau menjawab: ya, dan ada padanya kabut (dakhon), aku bertanya lagi: apa kabut (dakhon)nya tersebut, beliau menjawab: satu kaum yang mengikuti contoh teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik dari mereka dan kamupun mengingkarinya, aku bertanya lagi: apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi, beliau menjawab : ya, para dai yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahannam), barang siapa yang menerima ajakan mereka , niscaya mereka jerumuskan ke dalam neraka. Aku bertanya lagi: wahai Rasululloh berilah tahu kami sifat-sifat mereka? Beliau menjawab: mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita, aku bertanya lagi wahai Rasululloh apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?, beliau menjawab: berpegang teguhlah pada jamaah muslimin dan imamnya, Aku bertanya lagi: bagaimana jika tidak ada jamaah maupun imam? Beliau menjawab: hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.[6]

Demikianlah kami mengajak saudara sekalian untuk kembali mempelajari ajaran Rasululloh yang telah difahami langsung para sahabat yang sudah mendapat jaminan dari Allah. Siapa yang sama dengan mereka dalam iman maka mendapatkan petunjuk, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk (QS. 2:137) dan sabda Rasululloh n :

إِنَّ مِنْ وَرَاءِكُمْ أَيَّام الصَبْرِ للمُتَمَسِّكِ فِيْهِنَّ يَوْمَئذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ

Sesungguhnya ada setelah kalian hari-hari kesabaran, orang yang berpegang teguh kepada apa yang kalian ada atasnya pada waktu itu mendapat pahala limapuluh orang dari kalian.[7]

Jalan para sahabat inilah yang dinamakan sabilul mukmin karena merekalah Allah turunkan firmanNya:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. Annisa’ 4:115)

Oleh karena itu renungkanlah pernyataan Ibnu Mas’ud:

Barang siapa yang mencontoh maka contohlah sahabat-sahabat Rasululloh karena mereka adalah orang-orang dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling tidak macam-macam, paling baik contoh teladannya dan paling bagus keadaannya, mereka adalah satu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani NabiNya dan untuk menegakkan agamaNya, maka akuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak langkah mereka karena mereka telah berada diatas petunjuk yang lurus.

Demikian juga ucapan Al Auza’I: Sabarkan (tetapkan) dirimu diatas Sunnah, berhentilah dimana kaum (para sahabat) berhenti, katakanlah apa yang mereka katakan dan diamlah apa yang mereka telah mendiaminya serta berjalanlah di jalan Assalaf Ashsholih, karena mencukupkan kamu apa yang telah mencukupkan mereka.[8]

Mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua kejalanNya yang lurus. Amiin.



[1] Taisir Karimir Rahman, Karya Assa’di, hal. 32.

[2] Majmu’ Fatawa 1 /4

[3] Ibid 1 /5-6.

[4] HR Al Bukhori (2651) dan Muslim (2535).

[5] Akan datang takhrijnya hal.

[6] HRS Bukhori (6/615-616- fathul bari) dan Muslim (1847).

[7] hasan dengan syahid-syahidnya; sebagaimana telah saya jelaskan dalam Darul Irtiyaab An hadits Ma Anaa Alaihi wal Ashhaab hal. 15.

[8] Al Aajuriy dalam Asy Syariat hal 58.

18 - September - 2007

Kunci surga adalah …

Filed under: Islam — wotpres @ 8:49 am

Ketahuilah, sesungguhnya kunci surga adalah tauhid dan perealisasian Lā Ilāha illallāh, yaitu dengan menjadikan seluruh ibadah semata-mata hanya ditujukan kepada Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya.

Nabi ` bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa Lā Ilāha illallāh (tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah) maka wajib baginya surga.”

[Lihat Shahīh al-Jāmi', no. 229; dan ash-Shahīhah, no. 1135. Hadits ini dimasukkan sebagai salah satu hadits mutawātir dalam Nazhm al-Mutanātsir, hal. 21, no. 8]

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu yang ingin dicapai kunci tertentu untuk membukanya…. Kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah pertanyaan yang baik dan memperhatikan secara seksama, kunci pertolongan dan kemenangan adalah sabar, kunci tambahan (karunia) adalah syukur…. Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu, yaitu mengetahui kunci-kunci pintu kebaikan dan keburukan. Tidaklah mendapatkan taufiq untuk mengetahui dan memelihara hal ini melainkan orang-orang yang mendapat bagian dan taufiq yang sangat besar. Sebab Allah telah menjadikan bagi setiap kebaikan dan keburukan pintu dan kunci untuk memasukinya.”

[Hādil Arwāh ilā Bilādil Afrāh, hal. 65-66. Lihat pula Ahwāl al-Ākhirah min Nushūsh al-Kitāb was Sunnah, Prof. Dr. Sayyid Muhammad Sādātī asy-Syinqithi, hal. 101-102]

Suatu ketika Wahb Ibn Munabbih ditanya, “Bukankah kunci Surga adalah lā Ilāha illallāh?” Wahb menjawab, “Benar. Namun tidaklah ada satu kunci pun melainkan pasti memiliki gerigi. Jika engkau membawa kunci yang memiliki gerigi (yang tepat) niscaya akan terbuka untukmu. Dan jika tidak, maka tidak akan terbuka untukmu.”

[Riwayat al-Bukhāri secara mu'allaq, dalam al-Janā-iz vol. I, hal. 145]

Maksud beliau, tauhid memang kunci surga, akan tetapi gerigi dari kunci tersebut adalah mengerjakan berbagai amal shalih, yaitu mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ada yang bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, “Orang-orang mengatakan bahwa barangsiapa yang mengucapkan lā Ilāha illallāh niscaya masuk surga.” Beliau menjawab, “(Yaitu) siapa yang mengucapkannya serta menunaikan hak dan kewajibannya.”

[Jāmi' al-'Ulūm wal-Hikam, hal. 209-210]

(Sumber dari situs adniku)

26 - August - 2006

Hello world!

Filed under: Islam — wotpres @ 6:27 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog at WordPress.com.